Menggali Industri dan Budaya: Field Trip "Industry
Culture on Vacation"
Rabu, 13 Desember 2023
Pada tanggal 13 Desember
2023, siswa-siswi dari kelas VII SMP dan kelas X SMA Insan Cendekia Boarding
School melangkah keluar dari ruang kelas mereka untuk menjelajahi dunia di luar
dinding sekolah. Mereka tidak hanya berlibur, tetapi juga mengeksplorasi dan
merasakan keberagaman industri dan budaya yang menjadi kaya warisan bangsa
Indonesia. Dengan berlokasi di Sukabumi, Jawa Barat, dengan keindahan alamnya
dan keberagaman industri serta budaya, menjadi tempat yang ideal untuk
menjelajahi dan memahami warisan budaya dan industri Indonesia. Field trip
dengan tema "Industry Culture on Vacation" ini bukan sekadar
jalan-jalan biasa, melainkan sebuah perjalanan yang sarat akan makna dan tujuan
pembelajaran.
Salah satu tujuan utama
dari kegiatan ini adalah memberikan kesempatan kepada siswa-siswi kelas VII SMP
dan kelas X SMA untuk mengekspresikan diri mereka melalui berkomunikasi, berinteraksi,
dan beradaptasi dengan lingkungan di sekitar mereka. Dengan berada di
tengah-tengah industri dan budaya yang berbeda, mereka diajak untuk merasakan
atmosfir yang berbeda, belajar berkomunikasi dengan orang-orang dari latar
belakang yang beragam, serta menyesuaikan diri dengan situasi yang baru.
"Menapaki Jejak
Keberagaman: Petualangan Ke Pabrik Yakult, Batik Lokatmala, dan Mochi Lampion
di Sukabumi"
Sukabumi, sebuah kota yang terkenal dengan keindahan alamnya, menyimpan banyak keajaiban industri dan budaya yang menarik untuk dijelajahi. Peserta memulai perjalanan mereka untuk menjelajahi tiga destinasi yang menarik di Sukabumi: Pabrik Yakult, Batik Lokatmala, dan Mochi Lampion. Inilah pengalaman yang mereka dapatkan
Pabrik Yakult
Kunjungan
pertama peserta field trip adalah ke Pabrik Yakult, salah satu pabrik minuman
probiotik terkenal di Indonesia. Para peserta diajak untuk melihat langsung
proses produksi Yakult, mulai dari fermentasi hingga pengemasan. Mereka
memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana minuman sehat ini diproduksi
dan bagaimana peran industri makanan dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Salah satu momen yang paling menarik adalah ketika peserta melihat bagaimana miliaran bakteri probiotik ditambahkan ke dalam minuman Yakult untuk memberikan manfaat kesehatan bagi konsumen. Kunjungan ini memberikan wawasan baru tentang pentingnya nutrisi dan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Batik Lokatmala
Setelah
menjelajahi dunia industri, peserta kemudian berpindah ke dunia seni dan budaya
dengan mengunjungi Batik Lokatmala. Di sini, mereka mempelajari proses
pembuatan batik, salah satu seni tradisional Indonesia yang kaya akan makna dan
keindahan.
Para
peserta mendapatkan kesempatan untuk melihat para pengrajin batik yang mahir
bekerja dengan cermat menghasilkan karya seni yang memukau. Mereka juga diajak
untuk mencoba membuat motif batik sederhana dengan bimbingan dari para ahli
batik di lokasi tersebut. Kunjungan ini tidak hanya memberikan pemahaman
tentang warisan budaya Indonesia, tetapi juga memupuk apresiasi terhadap
keindahan seni tradisional.
3. Mochi Lampion
Petualangan
mereka di Sukabumi tidak lengkap tanpa mengunjungi Mochi Lampion, tempat di
mana peserta belajar tentang pembuatan Mochi Lampion tradisional yang unik. Di
sini, mereka dapat melihat bagaimana para pengrajin lokal dengan mahir membuat
moci dengan tangan, menggunakan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.
Peserta
juga diberi kesempatan untuk mencoba membuat moci sendiri dengan panduan dari
para pengrajin tersebut. Suasana kreatif dan bersemangat di workshop ini
membuat peserta terinspirasi untuk berkreasi dan menghargai keindahan kerajinan
tradisional Indonesia.
Kesimpulan
Field trip dengan tema "Industry
Culture on Vacation" ini memberikan pengalaman yang mendalam dan
bermakna bagi siswa-siswi kelas VII SMP dan kelas X SMA Insan Cendekia Boarding
School.
Kegiatan ini tidak hanya
sekadar perjalanan wisata biasa. Ini adalah upaya nyata dalam menciptakan
lingkungan belajar yang baru dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Dengan
pengenalan lingkungan, situasi, dan kondisi secara langsung, siswa-siswi
menjadi lebih mudah memahami dan memiliki pengalaman yang berharga. Pengalaman
ini tidak hanya bermanfaat untuk menghadapi studi lebih lanjut, tetapi juga
dalam pemakaian praktis dan penerapannya dalam proses KBM di sekolah serta
dalam kehidupan sehari-hari mereka.